Sabtu, 23 Juni 2007

Simposium Kepala Sekolah Tahun 2006

SINERGI TIGA UTAMA MENUJU SEKOLAH YANG MENCERDASKAN
[CATATAN PELAKSANAAN MBS]

Herman Retnandar
Kepala SMA YPK Bontang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Sejak tahun 1996 UNESCO telah menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu belajar untuk; menguasai ilmu pengetahuan (learning to know), menguasai keterampilan (learning to do), hidup bermasyarakat (learning to live together) dan mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).
Belajar untuk mengetahui (learning to know) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan. Dalam learning to know, seorang guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator yang dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan murid dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.
Pendidikan juga merupakan proses belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do). Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Learning to do akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi murid untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (aptitude test). Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Dewasa ini, keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk itu pembinaan terhadap keterampilan anak perlu mendapat perhatian serius.
Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya.
Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif peran dosen sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri mahasiswa secara maksimal. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi.
Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together). Salah satu fungsi sekolah adalah tempat bersosialisasi, tatanan kehidupan, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together".
Dalam upaya memenuhi empat pilar pendidikan tersebut di atas, pendidikan tidak dapat dibiarkan berjalan secara apa adanya. Pendidikan secara kelembagaan harus dikelola secara cerdas dan profesional. Proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan dalam pendidikan harus dilakukan secara sistemik dan sistematis serta diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana implikasi tataran teoretis tentang sekolah efektif dapat dijalankan di SMA YPK?
2. Apa hasil konkret dari pelaksanaan manajemen sekolah efektif tersebut?


BAB II
KERANGKA TEORETIS
A. Sekolah Efektif

Konsep Mortimore (1991), tentang sekolah efektif: “one in which students progress further than might be expected from a consideration of intake” dapat diartikan bahwa tugas penting sekolah adalah menjaga agar semua siswa dapat berkembang sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah. Tujuan sekolah bukan hanya sekedar menghasilkan kelulusan 100%, nilai NEM (NUN) tinggi atau prosentase keterserapan di perguruan tinggi yang besar. Dalam sekolah efektif semua siswa dijamin dapat berkembang, misalnya dalam hal kemampuan menahan diri, mengendalikan emosi, memahami emosi orang lain, memiliki ketahanan menghadapi kegagalan, bersikap sabar, memiliki kesadaran diri, bermotivasi tinggi, bersikap kreatif, memiliki empati, bersikap toleransi, dan sebagainya merupakan karakteristik yang jauh lebih penting untuk dimiliki siswa dari pada sekedar pencapaian NEM (NUN).
Dalam sekolah yang efektif terdapat proses belajar yang efektif, yang ciri-cirinya menurut Mortimore adalah sebagai berikut: (1) aktif, bukannya pasif; (2) tidak kasab mata; (3) rumit, bukannya sederhana; (4) dipengaruhi oleh adanya perbedaan individual di antara para peserta didik; (5) dipengaruhi oleh berbagai konteks. Selanjutnya, menurut Sackney, 1986 beberapa ciri penting bagi sekolah efektif adalah:
Adanya visi dan misi yang dipahami bersama oleh komunitas sekolah
Dalam prakteknya dapat dirinci lagi menjadi: (a) adanya sistem nilai dan keyakinan yang saling dimengerti oleh komunitas sekolah; (b) adanya tujuan sekolah yang jelas; (c) adanya kepemimpinan instruksional.
Iklim belajar yang kondusif di sekolah.
Dalam hal ini meliputi: (a) adanya keterlibatan dan tanggung jawab siswa; (b) lingkungan fisik yang mendukung; (c) perilaku siswa yang positif; (d) adanya dukungan keluarga dan masyarakat terhadap sekolah.
Ada penekanan pada proses belajar,
Fokus dari proses belajar ini terdiri dari: (a) memusatkan diri pada kurikulum dan instruksional; (b) ada pengembangan dan kolegialitas para guru; (c) adanya harapan yang tinggi dari komunitas sekolah; dan (d) adanya pemantauan yang berulang-ulang terhadap kemajuan belajar siswa.

B. Kepala Sekolah Efektif
Untuk memimpin sekolah efektif diperlukan seorang Kepala sekolah yang dapat berfungsi sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. Sebagai manajer yang baik, kepala sekolah harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik yang meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pengarahan; dan (4) pengawasan.
Seorang Kepala sekolah mungkin perlu mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinaan transformasional dapat didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan dan atau mendorong semua unsur yang ada dalam sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur sehingga semua warga sekolah bersedia berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan.
Indikasi seorang Kepala Sekolah yang telah berhasil menerapkan gaya kepemimpinan transformasional menurut Luthans, 1995: 358 adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasikan dirinya sebagai agen perubahan (pembaruan); (2) memiliki sifat pemberani; (3) mempercayai orang lain; (4) bertindak atas dasar sistem nilai, (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya); (5) meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus sepanjang hayat; (6) memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu; (7) memiliki visi ke depan.
Dalam memimpin sekolah efektif di era desentralisasi ini, seorang Kepala sekolah tidak layak lagi untuk takut mengambil inisiatif. Praktek kepemimpinan yang bersifat bersifat instruktif dan top down seperti ketika era sentralistik harus segera ditinggalkan. Karena jika dipertahankan akan berakibat pada terbelenggunya seorang kepala sekolah dengan juklak dan juknis. Sehingga dapat menyebabkan tertutupnya sekolah pada proses pembaruan dan inovasi. Seorang Kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan partisipatif – transformasional memiliki kecenderungan untuk menghargai ide-ide baru, cara baru, praktik-praktik baru dalam proses belajar – mengajar di sekolah.
Akhirnya. agar proses inovasi di sekolah dapat berjalan dengan baik, kepala sekolah perlu dan harus bertindak sebagai pemimpin (leader), dan bukannya bertindak sebagai boss. Menurut William Glasser (1992) metapora yang membedakan antara leader dan boss dapat kita pahami dari ungkapan-ungkapan berikut: (1) A boss drives. A leader leads; (2) A boss relies on authority. A leader relies on co-operation; (3) A boss says “I”. A leader says “We”; (4) A boss creates fear. A leader creates confidence; (5) A boss knows how. A leader shows how; (6) A boss creates resentment. A leader breeds enthusiasm; (7) A boss fixes blame. A leader fixes mistakes; (8) A boss makes work drudgery. A leader makes work interesting.

C. Guru Efektif
Memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah. Menurut, John Goodlad, kualitas pembelajaran akan lebih banyak ditentukan oleh guru. Ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Ia dapat tampil sebagai sosok yang menarik sehingga mampu menebarkan virus nAch (needs for achievement) atau motivasi berprestasi. Kalau tidak demikian, maka akan berlaku sebaliknya, dengan otoritasnya di kelas yang begitu besar seorang guru dapat tampil sebagai sosok yang membosankan, instruktif, dan tidak mampu menjadi idola bagi siswa di kelas. Bahkan dia juga bisa mematikan kreativitas, menumpulkan daya nalar, mengabaikan aspek afektif.
Guru profesional adalah guru yang mampu menegakkan standar kualitas yang ideal bagi proses pembelajaran. Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Menurut Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual (bukan atas dasar KKN-pen.); (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan (9) memiliki organisasi profesi. Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif.
Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari:
Guru yang memiliki kemampuan terkait dengan iklim belajar di kelas.
Kemampuan ini dapat dirinci lagi menjadi (a) memiliki keterampilan interpersonal; (b) memiliki hubungan baik dengan siswa; (c) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (d) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (e) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (f) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (g) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (h) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.
Guru yang memiliki kemampuan terkait dengan strategi manajemen pembelajaran.
Kemampuan ini meliputi: (a) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (b) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.
Guru yang memiliki kemampuan terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement).
Kemampuan ini terdiri dari: (a) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (b) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (c) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (d) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.
Guru yang memiliki kemampuan terkait dengan peningkatan diri.
Kemampuan ini terdiri dari: (a) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (b) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (c) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan. -

BAB III
PELAKSANAAN DAN HASIL PENGELOLAAN
SEKOLAH EFEKTIF
A. Pelaksanaan Sekolah Efektif
Berdasarkan kerangka teoretis yang dipaparkan di bagian sebelumnya, langkah-langkah dalam pengelolaan sekolah efektif diuraikan dalam tiga bagian sebagai berikut:
Menuju Sekolah Efektif
Langkah yang senantiasa dilakukan sebelum memulai tahun ajaran baru adalah melalukan loka karya seluruh guru. Dalam kegiatan ini disosialisasikan lagi visi dan misi perusahaan, visi dan misi yayasan serta visi dan misi sekolah. Kemudian melakukan proses penjaringan pendapat tentang sistem nilai dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hasil dari seluruh kajian warga sekolah kemudian disusun menjadi suatu dokumen lengkap yang dijadikan pedoman guru dalam pekerjaannya. Dengan demikian semua merasa terlibat dan merasa berkepentingan untuk menjalankannya.
Masih berkaitan dengan membangun sekolah efektif, langkah berikutnya adalah menciptaka iklim belajar yang kondusif di sekolah. Langkah konkretnya adalah; (a) melengkapi sarana dan prasarana sekolah, (b) menjalankan kebersihan kelas, menata taman, kantin mushola, lapangan olah raga yang sangat representatif dan mencukupi. (c) memberi kesempatan kepada siswa untuk menata, menghias, serta memelihara kelasnya masing-masing serta (d) memperpanjang jam buka sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler.
Sementara itu, kegiatan pokok dalam sebuah sekolah efektif adalah melaksanakan seluruh proses belajar mengajar adalah adanya penekanan pada proses belajar. Kegiatan pokok yang dilakukan berkaitan dengan hal ini yang pertama adalah memusatkan diri pada kurikulum dan instruksional. Untuk kepentingan ini, langkah yang tepat dengan melakukan inovasi tiada henti disesuaikan dengan isu-isu pendidikan yang berlangsung. Pernah dalam suatu tahun pelajaran dijalankan 3 (tiga) program dengan kurikulum yang berbeda contohnya; (1) program reguler kurikulum 1994, (2) program reguler kurikulum 2004 (kbk) serta (3) program akselerasi dengan kurikulum pemadatan tahun 1994 dan 2004. Kini, meskipun secara resmi belum ditetapkan untuk menggunakan kurikulum 2006, SMA YPK telah berhasil menyusun Kurikulum SMA YPK.
Masih berkaitan dengan proses belajar mengajar, faktor penunjang agar proses berjalan dengan baik maka selalu diadakan wahana pengembangan dan kolegialitas para guru. Untuk pengembangan guru biasanya dilakukan pelatihan-pelatihan baik secara intern maupun diikutsertakan lewat lembaga lain. Hal yang tak kalah pentingnya dalam memperluas cakrawala pengetahuannya, maka disediakan infrastruktur internet gratis sehingga setiap guru mampu mengakses segala macam pengetahuan lewat jaringan web. Kesejawatan dibina dengan mengikutsertakan guru dalam forum-forum guru mulai MGMP sampai organisasi PGS (persatuan guru swasta).

Menjadi Kepala Sekolah Efektif
Ada pendapat yang menyatakan bahwa wajah sekolah menunjukkan identitas Kepala Sekolah. Menyadari hal ini, maka dalam menjalankan fungsi Kepala Sekolah sebagai perencana; pengorganisasi, pengarah; dan pengawas maka dipilih gaya kepemimpinan transformasional.
Implikasi dari kepemimpinan seperti dikatakan Luthans, antara lain:
a. Mengidentifikasikan diri sebagai agen perubahan (pembaruan)
Untuk kepentingan ini cara yang paling baik adalah melalui proses pembelajaran baik dari literatur yang banyak terserak di belantara maya (internet), mass media maupun buku-buku referensi. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adlah belajar dari pengalaman orang lain dalam memimpin sekolah, baik melalui kaji banding, berbagi pengalaman maupun mengikuti forum-forum diskusi.
b. Sifat pemberani
Dalam hal ini yang terberat adalah meruntuhkan paradigma lama pendidikan yang menyamakan pembelajaran ibarat mesin produksi. Lalu melakukan pembelajaran bagi orang tua dalam menyikapi kebijakan-kebijakan sekolah. Berani juga dapat ditunjukkan ketika melakukan inovasi penyelenggaraan pendidikan yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap melawan arus atau di luar kebiasaan.
c. Mempercayai orang lain
Seorang Kepala Sekolah tidak mungkin tampil sendiri dalam bekerja mengelola sekolah. Selain karena memiliki keterbatasan pengetahuan, pekerjaan profesional harus dijalankan oleh orang yang benar-benar mengerti pada lingkup pekerjaannya. Kerjasama tim mutlak diperlukan dan untuk hasil yang baik maka perlu ditumbuhkan sikap saling mempercayai satu sama lain. Bentuk kepercayaan ini diwujudkan pada pendelegasian secara penuh kepada setiap guru dan karyawan di SMA YPK untuk menjalankan tugas yang dibebankan.
d. Bertindak atas dasar sistem nilai.
Setiap akhir tahun pelajaran seorang Kepala Sekolah memiliki tugas untuk melakukan penilaian kinerja setiap guru dan karyawan. Penilaian kinerja dilakukan secara objektif berdasarkan observasi di lapangan dan hasil karya setiap guru atau karyawan. Parameter yang digunakan adalah aturan kepegawaian dari yayasan serta standar kompetensi guru/jabatan yang berlaku di kalangan departemen pendidikan nasional.
e. Berwawasan Luas.
Kiat untuk hal ini adalah selalu meningkatkan kemampuan secara terus-menerus sepanjang hayat melalui pembelajaran, pelatihan dan pengalaman orang lain. Disamping itu dengan modal wawasan yang luas Kepala Sekolah akan memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu serta memiliki visi ke depan

Membina Guru Efektif
Ujung tombak dari keberhasilan proses belajar mengajar adalah para guru. Oleh karena itu, memiliki guru-guru yang profesional dan efektif mutlak diperlukan oleh setiap lembaga pendidikan. Menyadari hal tersebut SMA YPK selalu berusaha memiliki guru-guru yang profesional. Mengingat kondisi guru yang sangat beragam, maka cara sering dilakukan dengan mengadakan pelatihan bersamaa untuk materi yang baru sama sekali ataupun mengadakan pelatihan secara terpisah untuk target-target tertentu.
Selain menyelenggarakan sendiri, sekolah secara proaktif mengadakan kerjasama dengan instansi terkait untuk mengikutkan perwakilan guru dalam berbagai seminar maupun pelatihan baik di Bontang maupun di luar Bontang. Hal yang tak kalah pentingnya dalam era global adalah menyediakan infrastruktur informatika yang memadai untuk para guru agar dapat berkomunikasi dengan teman sejawatnya di sekolah lain.
Tujuan-tujuan dari berbagai kegiatan guru tersebut adalah dalam rangka; untuk memiliki landasan pengetahuan yang kuat; memiliki kompetensi individual yang tinggi; mendapat sertifikasi, etos kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, profesionalitasi; memiliki prinsip-prinsip etik (kode etik) dan militansi individual.

B. Hasil Pelaksanaan Sekolah Efektif
Pada umumnya keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dapat dikelompok-kelompokkan menjadi bidang akademik dan non akademik. Bidang akademik meliputi prestasi sekolah dalam kelulusan, pencapaian NEM/NUN serta keterserapan lulusan di Perguruan Tinggi. Termasuk dalam kategori akademik adalah prestasi siswa dalam berbagai lomba Bidang Studi/ Ilmiah mulai dari tingkat kota hingga nasional. Sementara itu, untuk bidang non akademik adalah prestasi sekolah/warga sekolah di bidang-bidang lainnya.
1. Bidang Akademik
b. Pencapaian Rata-rata NEM/NUN
Tahun Pelajaran Jurusan IPA Jurusan IPS
1988/1989 6.45 5.75
1989/1990 7.72 6.38
1990/1991 5.81 6.47
1991/1992 7.04 6.68
1992/1993 7.36 6.90
1993/1994 7.07 6.93
1994/1995 7.51 7.36
1995/1996 7.37 6.69
1996/1997 7.91 7.37
1997/1998 6.75 6.84
1998/1999 6.48 6.27
1999/2000 6.28 6.36
2000/2001 6.66 6.45
2001/2002 6.39 6.35
2002/2003 7.78 7.40
2003/2004 7.27 7.22
2004/2005 6.95 6.79
2005/2006 8.27 7.65
Sebagai catatan, data yang ditampilkan adalah pencapaian nilai rata-rata karena jumlah bidang studi ujikan berbeda jumlahnya. Data yang dicetak tebal adalah data yang diperoleh semasa kepemimpinan penulis.
c. Prosentase Keterserapan di PTN
Tahun Pelajaran
Prosentase diterima di PTN
1988/1989 55%
1989/1990 60%
1990/1991 43%
1991/1992 34%
1992/1993 36%
1993/1994 53%
1994/1995 58%
1995/1996 34%
1996/1997 60%
1997/1998 70%
1998/1999 58%
1999/2000 62%
2000/2001 79%
2001/2002 77%
2002/2003 56%
2003/2004 53%
2004/2005 80%
2005/2006 65%

2. Bidang Non Akademik
Sejak SMA YPK didirikan pada tahun 1987 sudah banyak prestasi lokal dan nasional diraih oleh sekolah, guru maupun siswa baik di bidang lomba ilmiah, olah raga maupun seni. Keberhasilan ini menempatkan SMA YPK menjadi salah satu dari jajaran sekolah terbaik di provinsi Kalimantan Timur.
Prestasi ini mengalami peningkatan yang cukup tajam terutama dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2003/2004 beberapa siswa mewakili Bontang dalam ajang Olympiade Sains dan dua orang guru berhasil menjadi nominator pembuatan media pembelajaran. Pada tahun 2004/2005, selain menjadi juara umum olympiade sains tingkat kota Bontang juga menjuarai berbagai lomba baca puisi, debat bahasa inggris, judo, ju jitsu hingga panjat tebing, renang dan catur. Dua orang guru menjadi nominator dan pemenang Lomba Pembuatan Media Pembelajaran
Pada tahun 2005/2006 sekolah mendapat predikat Sekolah Sehat peringkat V (lma) nasional, beberapa siswa menjuarai invitasi baik olah raga, kegiatan ilmiah maupun kesenian. Pada tahun itu juga terdapat seorang guru yang berhasil menjadi juara II pembuatan media pembelajaran berbasis TIK. Data lengkap tentang prestasi dapa dilihat pada lampiran.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Keberhasilan pendidikan menurut paradigma baru tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, melainkan juga harus dapat mengembangkan nilai-nilai afeksi dan psikomotorik
2. Sekolah efektif adalah sekolah yang mampu mengembangkan sejauh mungkin segala potensi yang dimiliki siswa dari kondisi awal ketika masuk.
3. Sekolah efektif dapat terwujud bila dikelola dengan baik oleh manajemen yang efektif, didukung oleh para guru yang profesional dan efektif serta lingkungan belajar yang kondusif.
4. Pengelolaan sekolah efektif dengan menjalankan secara penuh manajemen pendidikan berbasis sekolah mampu menciptakan kondisi ideal sekolah yang mampu meningkatkan prestasi sekolah, guru maupun siswa.

B. Saran
1. Agar terwujud sebuah sekolah efektif, maka seluruh warga sekolah perlu ditingkatkan pengetahuannya tentang kriteria sekolah, kepala sekolah dan guru yang efektif.
2. Untuk meningkatkan kinerja, perlu dilakukan pembinaan terus menerus kepa seluruh untuk pendidik supaya tidak tertinggal oleh kemajuan jaman.

Link Ke Situs Sumber Belajar Biologi

Situs-situs ini sangat bermanfaat buat persiapan mengajar Biologi

http://tolweb.org/

http://www.biologyjunction.com/

http://www.mycolog.com/

http://www.biology4kids.com/

http://www.plantamor.com/



Teman-teman guru Biologi, ini adalah oleh-oleh dari Pelatihan PBM berbasis TIK di Graha Dinar Bogor:
BIOCHEMICAL&BIOTEKNOLOGI http://matematicas.udea.edu.co/~carlopez/index2e.html
PENGHANTARAN IMPULS http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/synaptictransmission.html
SINAPIS http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/signaling.html
SINAPSIS LISTRIK http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/signaling.html
SINAPSIS KIMIAWI http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/receptors.html
PROSES MENDENGAR http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/soundtransduction.html
PROSES MELIHAT http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/visualpathways.html
STRUKTUR MATA http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/receptivefields.html
INDERA PERABA I http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/reflexarcs.html
INDERA PERABA II http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/neurobiology/skinreceptors.html
BAKTERI I http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/cellfractionation.html
SIKLUS HIDUP HIV http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/lifecyclehiv.html
BAKTERI ANTRAX http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/ani_anthrax.html
SINTESA PROTEIN http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/mcb.html
EKOLOGI http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/biogeography.html
PERKEMBANGAN EMBRIO http://www.sumanasinc.com/webcontent/anisamples/stemcells.html
TRANSPORT ELEKTRON http://www.soest.hawaii.edu/~ffd/bio275/movies/electron%20transport%20chain/e-tc.swf
SINTESA PROTEIN I http://www.soest.hawaii.edu/~ffd/bio275/movies/transcription/transcription.swf
SINTESA PROTEIN II http://www.soest.hawaii.edu/~ffd/bio275/movies/translation/translation.swf

Minggu, 17 Juni 2007

Perkenalan

Selamat Datang di Blog saya


Blog ini didedikasikan buat kemajuan pendidikan di kota kecil Bontang - Kalimantan Timur. Mudah-mudahan tulisan-tulisan yang nantinya akan diturunkan dalam blog ini dapat merepresentasikan kiprah saya selama 16 tahun mengabdi di Yayasan Pupuk Kaltim Bontang, serta cita-cita saya dalam mengembangkan dunia pendidikan ke depan.